SELASA, PEKAN BIASA III PERINGATAN WAJIB ST. THOMAS AQUINO, IMAM DAN PUJANGGA GEREJA 2 Sam 6:12b-15,17-19; Mrk 3:31-35

30

Setelah diangkat menjadi raja, Daud segera memindahkan Tabut Perjanjian ke Yerusalem. Tindakan ini merupakan usaha untuk menjadikan Allah sebagai pusat hidup kerajaan Daud.
Allah yang hadir di tengah-tengah bangsa Israel menjadi dasar, arah dan tujuan kehidupan. Kehadiran Allah tersebut menjadi keyakinan dan kebanggan Israel sebagai bangsa dan umat pilihan.
Kedatangan ibu dan saudara-saudara Yesus yang berusaha untuk menemui-Nya digunakan oleh Yesus untuk menegaskan kepada para pendengar-Nya tentang dasar, arah, dan tujuan baru kehidupan yang ditawarkan oleh Yesus.
Yesus tidak melandaskan pertalian persaudaraan hanya pada hubungan darah dan adat-istiadat. Ia memberikan dasar, arah, dan tujuan baru, yaitu ”Melakukan kehendak Allah”.
Thomas adalah anak kesembilan dari sebuah keluarga bangsawan di Italia. Ia seorang yang amat cerdas, tetapi ia tidak pernah menyombongkan kelebihannya.
Ia sangat menyadari bahwa kecerdasan pikirannya itu adalah karunia dari Tuhan. Ia merasa bahwa ia dipanggil untuk bergabung dengan kelompok “Dominikan”.
Namun keinginan Thomas ini tidak berkenan di hati kedua orang tuanya.
Ketika ia sedang dalam perjalanan ke Paris untuk belajar, saudara-saudaranya menculiknya.
Mereka mengurungnya di salah satu kastil keluarga mereka selama lebih dari satu tahun. Selama masa itu, mereka melakukan segala daya upaya untuk membuat Thomas mengubah pendiriannya.
Seorang saudarinya juga datang untuk membujuknya agar melupakan panggilannya. Tetapi Thomas berbicara demikian indahnya tentang sukacita melayani Tuhan, sehingga saudarinya itu mengubah pendapatnya.
Saudarinya itu bahkan memutuskan untuk mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan sebagai biarawati. Pada akhirnya Thomas diberi kebebasan untuk memenuhi panggilannya.
St. Thomas menulis demikian indah tentang Tuhan sehingga orang-orang dari seluruh dunia telah mempergunakan tulisan-tulisannya selama beratus-ratus tahun. Penjelasannya tentang Tuhan dan tentang iman berasal dari cintanya yang amat mendalam kepada Tuhan.
Ia seorang yang apa adanya sebab ia tidak sedang berusaha untuk membangkitkan kesan kepada siapa pun. Yang ia inginkan dengan segenap hatinya adalah mempersembahkan karunia hidupnya kepada Yesus dan kepada Gereja.
St. Thomas merupakan salah seorang dari Pujangga terbesar yang pernah dimiliki oleh Gereja. Ia bagaikan mutiara dengan sinar yang cemerlang dalam terang Roh Kudus.
St. Thomas dinyatakan kudus pada tahun 1323 oleh Paus Paulus II; Paus Pius V memberinya gelar Pujangga Gereja pada tahun 1567; Paus Leo XIII memberinya gelar mahaguru dari segala doktor akademik pada tahun 1879 dan pelindung semua universitas, perguruan tinggi, dan sekolah pada tahun 1880.
Pertanyaan utk kita:

  • Apakah aku telah menyadari bahwa hidupku adalah karunia Allah?
  • Apakah tindakanku sudah merupakan pelaksaan kehendak Allah? Bagaimana aku telah mewujudkannya.
  • Mari belajar pada St. Thomas, menyadari hidup kita sebagai anugerah Allah, mewujudkannya dalam setiap tindakan hidup kita demi kemuliaan Allah.

Selamat dan semangat beraktivitas pada hari ini.
Tuhan memberkati kita.

RP. Ivansius A. Siallagan, OFMCap